{"id":4237,"date":"2020-11-03T13:31:29","date_gmt":"2020-11-03T13:31:29","guid":{"rendered":"https:\/\/cipg.or.id\/?post_type=blog_article&#038;p=4237"},"modified":"2020-11-04T15:37:48","modified_gmt":"2020-11-04T15:37:48","slug":"model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2","status":"publish","type":"blog_article","link":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/","title":{"rendered":"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi?"},"content":{"rendered":"<p>Televisi mengudara dengan frekuensi milik publik. Karena itu, sejatinya warga berhak menggunakan, menikmati, dan mendapatkan manfaat dari frekuensi. Kelahiran Rapotivi pun tidak lepas dari semangat ini. Ia dirancang menjadi alat pengaduan yang memungkinkan penonton menyuarakan keprihatinan mereka mengenai kualitas konten televisi. Dalam konteks lebih luas, Rapotivi bisa menjadi model pengembangan rating alternatif yang lebih terbuka dan partisipatoris.<\/p>\n<p>Sejak diluncurkan pada 21 Februari 2015, terdapat 3473 pengguna yang terdaftar di lokadata Rapotivi (hingga 21 Februari 2017). Dari jumlah itu, ada 411 pengguna yang pernah menyampaikan aduan lewat Rapotivi. Jumlah aduan yang masuk pun cenderung menurun di tiap semester. Dalam enam bulan terakhir (22 Agustus 2016-21 Februari 2017) hanya ada 77 pengguna yang menyampaikan 195 aduan ke Rapotivi.<br \/>\nSepanjang Maret lalu, survei daring pengguna Rapotivi telah digelar.[1] Sebanyak 71 pengguna Rapotivi berpartisipasi dalam survei ini. Dari jumlah itu, 35 di antaranya menggunakan Rapotivi di Android, sedangkan sisanya mengakses Rapotivi melalui laman http:\/\/www.rapotivi.org\/. Kekerasan, pelecehan, dan eksploitasi seksual merupakan tiga isu besar yang paling memprihatinkan responden.<\/p>\n<p>Lebih dari separuh responden (66%) mengaku mau menggunakan Rapotivi karena mereka menginginkan tayangan TV yang lebih baik. Sebanyak 26% menggunakan Rapotivi karena ingin menyalurkan kritik ke stasiun TV. Sangat sedikit yang menggunakan Rapotivi karena ikut ajakan teman atau tertarik dengan imbalan. Tampak jelas bahwa pengguna Rapotivi sungguh berharap aspirasi yang mereka sampaikan melalui Rapotivi bermuara pada perbaikan kualitas tayangan TV. Selama dua tahun Rapotivi hadir, sudahkah harapan itu terwujud?<br \/>\nSaat ditanya apakah mereka merasa bahwa aduan yang mereka sampaikan lewat Rapotivi berdampak terhadap isi TV, sebagian besar merasa ragu. Ini tampak dari jawaban yang jatuh di kategori \u201cAgak setuju\u201d dan \u201cKurang setuju\u201d. Bahkan ada sembilan orang yang menyatakan \u201cSangat tidak setuju\u201d. Dengan kata lain, mayoritas responden merasa bahwa aduan yang mereka sampaikan lewat Rapotivi tidak berdampak pada perbaikan kualitas tayangan TV.<\/p>\n<p>Aduan<br \/>\nKami pun mengirimkan pertanyaan lanjutan untuk mengetahui alasan mereka yang menjawab \u201cSangat tidak setuju\u201d. Ada yang merasa frustrasi karena sudah berkali-kali mengadu lewat Rapotivi, tapi masih juga mendapati banyak adegan marah, menipu, merencanakan sesuatu yang buruk dalam tayangan berklasifikasi R\/BO (Remaja\/Bimbingan Orangtua). Juga ada yang geram lantaran sudah berulang kali melaporkan tayangan Mars Perindo lewat Rapotivi, namun tayangan itu tetap ada. Ia merasa KPI maupun lembaga pemerintah tak sanggup menindak pelanggaran tersebut.<br \/>\nCerita pengalaman pengguna Rapotivi tersebut memantik rasa penasaran kami: Adakah yang punya pengalaman serupa ketika berhadapan dengan TV? Kami sangat senang jika ada yang bersedia berbagi tentang pengalamannya menonton TV.<\/p>\n<p>[1] CIPG dan tim Rapotivi menyebarkan survei kepada pengguna Rapotivi melalui surel, akun Facebook dan akun Twitter Rapotivi, Remotivi, maupun CIPG, laman CIPG, dan pop up di aplikasi Rapotivi Android maupun laman Rapotivi. Surel pengingat untuk mengisi survei dikirimkan secara berkala dalam dua minggu terakhir periode survei. Sayangnya, periode survei berakhir, hanya 71 orang yang mengisi survei. Dari jumlah ini, 24 di antaranya memilih mengisi sebagai Anonim (tanpa nama).<\/p>\n","protected":false},"featured_media":4289,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"_acf_changed":false},"categories":[316],"tags":[228],"test_type":[40],"class_list":["post-4237","blog_article","type-blog_article","status-publish","has-post-thumbnail","hentry","category-blog-and-article","tag-klara-esti","test_type-information-social-change"],"acf":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v24.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Televisi mengudara dengan frekuensi milik publik. Karena itu, sejatinya warga berhak menggunakan, menikmati, dan mendapatkan manfaat dari frekuensi. Kelahiran Rapotivi pun tidak lepas dari semangat ini. Ia dirancang menjadi alat pengaduan yang memungkinkan penonton menyuarakan keprihatinan mereka mengenai kualitas konten televisi. Dalam konteks lebih luas, Rapotivi bisa menjadi model pengembangan rating alternatif yang lebih terbuka [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)\" \/>\n<meta property=\"article:publisher\" content=\"https:\/\/facebook.com\/ICIPG\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2020-11-04T15:37:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1709\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:site\" content=\"@icipg\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"2 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/\",\"url\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/\",\"name\":\"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp\",\"datePublished\":\"2020-11-03T13:31:29+00:00\",\"dateModified\":\"2020-11-04T15:37:48+00:00\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp\",\"width\":7360,\"height\":4912,\"caption\":\"Grand Design of DKI Jakarta Social Welfare Integrated Data Management Institution\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#website\",\"url\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/\",\"name\":\"Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)\",\"description\":\"\",\"publisher\":{\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#organization\"},\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Organization\",\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#organization\",\"name\":\"Centre for Innovation Policy and Governance\",\"url\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/\",\"logo\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/cipg.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/logo.png\",\"contentUrl\":\"https:\/\/cipg.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/logo.png\",\"width\":10524,\"height\":3501,\"caption\":\"Centre for Innovation Policy and Governance\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/\"},\"sameAs\":[\"https:\/\/facebook.com\/ICIPG\",\"https:\/\/x.com\/icipg\",\"https:\/\/instagram.com\/icipg\",\"https:\/\/www.linkedin.com\/company\/cipg-indonesia\/\",\"https:\/\/www.youtube.com\/c\/CentreforInnovationPolicyandGovernance\/\"]}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)","og_description":"Televisi mengudara dengan frekuensi milik publik. Karena itu, sejatinya warga berhak menggunakan, menikmati, dan mendapatkan manfaat dari frekuensi. Kelahiran Rapotivi pun tidak lepas dari semangat ini. Ia dirancang menjadi alat pengaduan yang memungkinkan penonton menyuarakan keprihatinan mereka mengenai kualitas konten televisi. Dalam konteks lebih luas, Rapotivi bisa menjadi model pengembangan rating alternatif yang lebih terbuka [&hellip;]","og_url":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/","og_site_name":"Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)","article_publisher":"https:\/\/facebook.com\/ICIPG","article_modified_time":"2020-11-04T15:37:48+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1709,"url":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"twitter_card":"summary_large_image","twitter_site":"@icipg","twitter_misc":{"Estimasi waktu membaca":"2 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/","url":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/","name":"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi? - Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)","isPartOf":{"@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp","datePublished":"2020-11-03T13:31:29+00:00","dateModified":"2020-11-04T15:37:48+00:00","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#primaryimage","url":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp","contentUrl":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/shutterstock_388995775-min-2.webp","width":7360,"height":4912,"caption":"Grand Design of DKI Jakarta Social Welfare Integrated Data Management Institution"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/blog_article\/model-rating-publik-apa-kata-pengguna-rapotivi-2\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Model Rating Publik: Apa Kata Pengguna Rapotivi?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#website","url":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/","name":"Centre for Innovation Policy and Governance (CIPG)","description":"","publisher":{"@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#organization"},"potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Organization","@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#organization","name":"Pusat Kebijakan dan Tata Kelola Inovasi","url":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/","logo":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/","url":"https:\/\/cipg.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/logo.png","contentUrl":"https:\/\/cipg.or.id\/wp-content\/uploads\/2020\/09\/logo.png","width":10524,"height":3501,"caption":"Centre for Innovation Policy and Governance"},"image":{"@id":"https:\/\/cipg.or.id\/en\/#\/schema\/logo\/image\/"},"sameAs":["https:\/\/facebook.com\/ICIPG","https:\/\/x.com\/icipg","https:\/\/instagram.com\/icipg","https:\/\/www.linkedin.com\/company\/cipg-indonesia\/","https:\/\/www.youtube.com\/c\/CentreforInnovationPolicyandGovernance\/"]}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/blog_article\/4237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/blog_article"}],"about":[{"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/blog_article"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4237"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4289"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4237"},{"taxonomy":"test_type","embeddable":true,"href":"https:\/\/cpig.arip.web.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/test_type?post=4237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}